reduksi oksidasi
REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI
Reaksi redoks banyak
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh yang dapat dilihat adalah
adanya pembakaran bahan bakar minyak pada sepeda motor, mobil, bus, dan
kendaraan lainnya. Selain itu, juga ditemukan pada reaksi pembakaran yang lain
seperti pembakaran kayu, sampah kering, dan bahkan dalam tubuh juga terjadi
pembakaran yaitu oksidasi makanan dalam sel. Selain reaksi pembakaran, dapat
juga dijumpai reaksi fotosintesis dan perkaratan besi. Jenis apakah reaksi
tersebut? Mengapa zat-zat tersebut dapat terbakar oleh oksigen? Mengapa besi
dapat berkarat?
1. PERKEMBANGAN KONSEP REAKSI OKSIDASI REDUKSI
Reaksi kimia dapat digolongkan ke dalam reaksi
redoks dan reaksi bukan redoks. Istilah redoks berkaitan
dengan peristiwa reduksi dan oksidasi. Pengertian
reduksi dan oksidasi itu sendiri telah mengalami perkembangan. Pada awalnya,
peristiwa reduksi dan oksidasi dikaitkan dengan pelepasan dan pengikatan
oksigen: oksidasi sebagai pengikatan oksigen, sedangkan reduksi sebagai
pelepasan oksigen. Pada perkembangan selanjutnya, oksidasi dan reduksi
dikaitkan dengan penangkapan atau pelepasan elektron, dan kemudian dengan
perubahan bilangan oksidasi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan cakupan yang
lebih luas bagi jenis reaksi tersebut.
2. PENGERTIAN OKSIDASI DAN
REDUKSI (REDOKS)
Pengertian oksidasi dan reduksi disini lebih melihat dari segi transfer
oksigen, hidrogen dan elektron. Disini akan juga
dijelaskan mengenai zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor).
* Oksidasi :
-Penambahan/pengikatan atom oksigen
-Pelepasan Elektron
-Naiknya bilangan oksidasi
* Reduksi
-Pengurangan atom oksigen
-Penambahan Elektron
-Turunnya bilangan oksidasi
* Reduktor (Pereduksi)
Zat yang mengalami oksidasi
* Oksidator (pengoksidasi)
Zat yang mengalami reduksi
* Reaksi Redoks
Reaksi redoks merupakan suatu reaksi yang mengandung peristiwa reduksi dan oksidasi
1. Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer
oksigen
Dalam hal
transfer oksigen, Oksidasi berarti mendapat oksigen, sedang Reduksi adalah
kehilangan oksigen.
Sebagai contoh,
reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:
Karena reduksi dan oksidasi
terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksi REDOKS.
2. Zat pengoksidasi dan zat pereduksi
Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang
mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan
oksidator.
Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang
mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon
monooksida.
Jadi dapat disimpulkan:
·
oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain,
·
reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain
3. Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer
hydrogen
Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama
dan kini tidak banyak digunakan. Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi
berarti mendapat hidrogen.
Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan
dari definisi pada transfer oksigen.
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
Untuk memindahkan atau mengeluarkan
hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang
umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam
sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
4. Zat pengoksidasi
(oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)
·
Zat pengoksidasi
(oksidator) memberi oksigen kepada zat lain, atau memindahkan hidrogen dari zat
lain.
·
Zat pereduksi
(reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi hidrogen kepada zat
lain.
5. Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer
electron
Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat
elektron.
Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:
Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:
Contoh sederhana
Reaksi redoks dalam hal transfer
elektron:
Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida
keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan
reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).
Jika anda perhatikan persamaan reaksi di
atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II) dengan memberi elektron untuk
menetralkan muatan tembaga(II). Dapat dikatakan: magnesium adalah zat pereduksi
(reduktor). Sebaliknya, ion tembaga(II) memindahkan elektron dari
magnesium untuk menghasilkan ion magnesium. Jadi, ion tembaga(II) beraksi
sebagai zat pengoksidasi (oksidator).
Reaksi redoks pada peristiwa perkaratan
besi dapat dijelaskan dengan reaksi berikut:
Pada reaksi
tersebut, enam elektron dilepaskan oleh dua
atom besi dan diterima oleh tiga atom oksigen membentuk senyawa
Fe2O3, Oleh karena itu, peristiwa oksidasi selalu disertai peristiwa reduksi.
Pada setiap persamaan reaksi, massa dan muatan
harus setara antara ruas kanan dan
ruas kiri (ingat kembali penulisan persamaan
reaksi). Persamaan reaksi redoks tersebut memiliki muatan dan jumlah atom yang
sama antara ruas sebelah kiri dan sebelah kanan persamaan reaksi.
Oksidasi besi netral melepaskan elektron
yang membuatnya kehilangan muatan. Dengan
menyamakan koefisiennya maka muatan pada kedua
ruas persamaan reaksi menjadi sama.
Penyetaraan pada reaksi reduksi oksigen juga
menggunakan cara yang sama.
Contoh Reaksi Reduksi Oksidasi
berdasarkan Transfer elektron
Dari persamaan tersebut, dapat
diketahui bahwa Mg melepaskan elektron dan Cl menerima elektron. Dengan
demikian, Mg mengalami oksidasi dan Cl mengalami reduksi.
Memang agak membingungkan untuk
mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus
mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer
elektron.Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam
transfer elektron:
·
Zat pengoksidasi
mengoksidasi zat lain.
·
Oksidasi berarti kehilangan elektron (OIL RIG).
·
Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat lain.
·
Jadi suatu zat
pengoksidasi harus mendapat elektron
Atau dapat
disimpulkan sebagai berikut:
·
Suatu zat
pengoksidasi mengoksidasi zat lain.
·
Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi.
·
Reduksi berarti mendapat elektron (OIL RIG).
·
Jadi suatu zat
pengoksidasi harus mendapat elektron.
3. PENGERTIAN
BILANGAN OKSIDASI (BO)
Bilangan oksidasi (biloks) adalah muatan yang dimiliki oleh suatu atom dalam suatu ikatannya dengan atom lain. Karena dalam ikatan yang terlibat adalah elektron, posisi elektron menentukan bilangan oksidasi.
Untuk senyawa ion, biloks positif ditunjukkan oleh banyaknya electron yang dilepas oleh satu atom unsur, sedangkan biloks negatif ditunjukkan oleh banyaknya elektron yang diterima oleh satu atom unsure. Misalnya, dalam senyawa CaCl2, satu atom Ca melepaskan dua electron maka biloks Ca = +2, satu atom Cl menerima satu elektron maka biloks Cl = -1.
Untuk senyawa kovalen, tidak terjadi pelepasan dan penerimaan elektron. Oleh karena itu, bilangan oksidasi suatu unsure ditentukab berdasarkan pergeseran elektron dalam iktan kovalennya. Atom yang lebih kuat menarik elekton (elektronegativitasnya lebih besar) mempunyai bilangan oksidasi negatif, sedangkan atom yang kurang kuat menarik electron (elektonegativitasnya kecil) bilangan oksidasinya positif. Besarnya bilangan oksidasi suatu unsur bergantung pada banyaknya electron-elektron yang terlibat dalam ikatannya, misalnya biloks H dalam HCl dan dalam H2O.
Bagaimana bilangan oksidasi
dapat menjelaskan reaksi redoks? Apa Anda
cukup puas dengan konsep transfer elektron?
Tinjau antara reaksi SO2 dengan O2membentuk SO3.
Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
Jika dikaji berdasarkan
konsep pengikatan oksigen maka reaksi tersebut
adalah reaksi oksidasi. Jika dikaji
berdasarkan transfer elektron maka Anda mungkin akan bingung,
mengapa? Pada reaksi tersebut tidak terjadi transfer elektron,
tetapi terjadi penggunaan bersama pasangan elektron
membentuk ikatan kovalen. Reaksi tersebut tidak dapat dijelaskan
dengan konsep transfer elektron.
Oleh karena banyak reaksi redoks yang tidak
dapat dijelaskan dengan konsep pengikatan oksigen maupun transfer
elektron maka para pakar kimia mengembangkan konsep alternatif, yaitu
perubahan bilangan oksidasi. Menurut konsep ini, jika
dalam reaksi bilangan oksidasi atom
meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi.
Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka
atom tersebut mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu
reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan
oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik dalam pereaksi
maupun hasil reaksi.
Berdasarkan diagram tersebut
dapat disimpulkan bahwa:
Atom S mengalami
kenaikan biloks dari +4 menjadi +6,
peristiwa ini disebut oksidasi; atom O mengalami penurunan biloks
dari 0 menjadi –2, peristiwa ini disebut reduksi. Dengan
demikian, reaksi tersebut adalah reaksi redoks.
Oleh karena molekul O2 menyebabkan
molekul SO2 teroksidasi maka molekul O2 adalah
oksidator. Molekul O2 sendiri mengalami
reduksi akibat molekul SO2 sehingga SO2 disebut
reduktor.
Contoh Reaksi Redoks Menurut Perubahan
Bilangan Oksidasi
3. ATURAN MENENTUKAN BILANGAN OKSIDASI
(BO)
a. Unsur-unsur bebas (seperti Na, Mg, Fe, Cl2, O2)
mempunyai BO = 0, demikian pula dakam bentuk senyawa (seperti H2SO4).
b. Ion atau atom O dalam senyawanya mempunyai BO
= -2, kecuali dalam peroksida.
c. H dalam senyawanya mempunyai BO = +1, kecuali
dalam hidridanya, contoh = NaH.
d. Unsur-unsur golongan IA dalam senyawanya mempunyai BO = +1.
e. Unsur-unsur golongan IIA dalam
senyawanya mempunyai BO = +2.
f. Unsur-unsur golongan halogen VIIA dalam
senyawanya mempunyai BO = -1, kecuali dalam senyawa oksinya (seperti HClO3,
HClO4, HiO3).
g. Dalam bentuk ion, BO tersebut sesuai dengan
muatannya. Contoh : S-2, BO = -2 dan Ba+2, BO = +2.
Penjelasan Lain :
Pengertian oksidasi
dan reduksi dapat ditinjau berdasarkan 3 landasan teori, yaitu :
1. Reaksi Pengikatan dan pelepasan unsur
oksigen
Reaksi oksidasi
(pengoksigenan) adalah peristiwa penggabungan suatu zat dengan oksigen.
Contoh:
Si + O2 → SiO2
4 Fe + 3
O2 → 2 Fe2O3
Reaksi oksidasi logam
dikenal juga dengan nama perkaratan. Reaksi pembakaran juga termasuk reaksi
oksidasi, misalnya pembakaran minyak bumi, kertas, kayu bakar, dll.
Reaksi reduksi adalah
peristiwa pengeluaran oksigen dari suatu zat.
Contoh:
2 CuO
→ 2 Cu + O2
H2O
→ H2 + O2
2. Reaksi pelepasan dan pengikatan
elektron
Reaksi oksidasi dan
reduksi juga dapat dibedakan dari pelepasan dan penangkapan elektron.
Oksidasi adalah
peristiwa pelepasan elektron
Contoh:
Na
→ Na + +
e
Zn
→ Zn +2 +
2e
Al
→ Al +3 +
3e
Reduksi adalah
peristiwa penangkapan elektron
Contoh:
Na + +
e → Na
Fe +3 +
e → Fe +2
Dari konsep kedua ini dapat disimpulkan
bahwa reaksi oksidasi dan reduksi tidak hanya hanya melibatkan reaksi suatu zat
dengan oksigen.
3. Reaksi penambahan dan pengurangan bilangan
oksidasi
Oksidasi adalah
peristiwa naiknya / bertambahnya bilangan oksidasi suatu unsur, sedangkan
reduksi adalah peristiwa turunnya / berkurangnya bilangan oksidasi.
B. BILANGAN OKSIDASI
Bilangan oksidasi (
biloks) disebut juga tingkat oksidasi. Bilangan oksidasi diartikan sebagai
muatan yang dimiliki suatu atom dalam keadaan bebas atau dalam senyawa yang
dibentuknya.
Bilangan oksidasi
suatu unsur dapat ditentukan dengan aturan berikut:
1. Biloks atom dalam unsur adalah nol
Contoh Na, Fe,
O2 , H2 memiliki biloks nol
2. Total biloks senyawa adalah nol
Contoh H2O,
NaOH, CH3COOH, KNO3 total biloksnya adalah nol
3. Biloks ion sesuai dengan muatannya
Contoh Na +1 (
= +1), O -2 ( = -2), Fe +3 (=
+3)
4. Biloks unsur golongan I A dalam
senyawanya adalah + 1
Contoh Biloks atom Na
dalam NaCl adalah + 1
5. Biloks unsur golongan II A dalam
senyawanya adalah + 2
Contoh: Biloks
Ca dalam CaCO3 adalah + 2
6. Biloks unsur golongan VII A dalam
senyawa binernya adalah – 1
Contoh: Biloks F
dalam senyawa KF dan BaF2 adalah – 1
7. Biloks unsur oksigen dalam senyawanya
adalah – 2
Contoh dalam H2O,
Na2O, Al2O3
8. Biloks unsur hydrogen dalam
senyawanya adalah + 1
Contoh dalam H2O,
HCl, H2SO4
Catatan Penting:
Biloks H = -1 dalam
senyawa hidrida misal NaH, LiH, CaH2
Biloks O = -1 dalam
senyawa peroksida misal H2O2
Silahkan selesaikan soal berikut ini!
Tentukan Biloks unsur yang digarisbawahi
di bawah ini
1. HNO3
2. KMnO4
3. H2SO4
4. SrCO3
5. KClO2
6. NH4 +
7. CaC2O4
8. CH3OH
9. PO4 -3
10. Cu(NO3)2
11. CrCl3
12. Mn(OH)2
13. Co2(SO3)3
14. P2O5
15. CH3ONa
C. OKSIDATOR DAN REDUKTOR
Oksidator adalah
istilah untuk zat yang mengalami reduksi (biloksnya turun), sedangkan Reduktor
adalah zat yang mengalami reaksi oksidasi (biloksnya naik/bertambah).
Contoh:
Pada reaksi
2Na + 2H2O
→ 2NaOH + H2
Reduktor adalah Na
sebab biloksnya naik dari 0 ke +1
Oksidator adalah H2O
sebab biloks H berubah dari +1 ke 0
Selesaikan soal berikut ini!
1. Tentukan termasuk oksidasi atau
reduksi
a. IO3 - →
I2
b. Cl2 → ClO –
c. AsO3 3- → AsH3
d. Cr 2+ → CrO4 -2
e. C2O4-2 → CO2
2. Tentukan oksidator dan reduktor dari
persamaan reaksi berikut
a. Sn
+ SnCl4 → 2
SnCl2
b. Zn
+ 2HCl → ZnCl2 +
H2
c. 2KI
+ Cl2 → 2KCl + I2
d. CO2
+ 2NaOH → Na2CO3 +
H2O
e. MnO2 +
4HBr → MnBr2 + 2H2O
+ Br2
f. 2KMnO4 +
5H2C2O4 + 3H2SO4 →K2SO4 +
2MnSO4 + 10 CO2 + 8 H2O
g. Fe2O3 +
HCl → FeCl3 + H2O
Materi reaksi reduksi-oksidasi terdiri atas
empat bagian yaitu perkembangan konsep reduksi-oksidasi, penentuan bilangan
oksidasi atom unsur dalam suatu senyawa/ion, penentuan reduktor dan oksidator
dalam reaksi reduksi-oksidasi, dan tata nama senyawa menurut IUPAC. Bagian
pertama materi reaksi reduksi-oksidasi yaitu perkembangan konsep
reduksi-oksidasi. Konsep reaksi oksidasi dan reduksi mengalami perkembangan
seiring dengan kemajuan ilmu kimia. Pada awalnya sekitar abad 18, konsep reaksi
oksidasi-reduksi didasarkatn atas reaksi oksidasi yang melibatkan penggabungan
oksigen dan reaksi reduksi yang melibatkan pelepasan
oksigen. Kemudian memasuki abad 20 para ahli melihat suatu
karakteristik mendasar dari reaksi oksidasi dan reduksi ditinjau dari ikatan
kimianya, yaitu adanya serah terima elektron. Selanjutnya,
konsep ketiga yaitu berdasarkan perubahan bilangan oksidasi.
Konsep reaksi redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi merupakan
pengembangan konsep reaksi redoks berdasarkan pelepasan dan penerimaan elektron,
agar tidak hanya berlaku pada senyawa ion tetapi juga pada senyawa kovalen.
1.
Konsep
Reaksi Oksidasi-Reduksi Berdasarkan Penggabungan dan Pelepasan Oksigen
Konsep reaksi oksidasi-reduksi didasarkan atas penggabungan
unsur/senyawa dengan oksigen untuk membentuk oksida dan pelepasan oksigen dari
senyawa.
1.
Reaksi
Oksidasi
Berdasarkan konsep ini, reaksi oksidasi didifenisikan
sebagai penggabungan oksigen dengan unsur/senyawa. Salah satu reaksi oksidasi
yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yaitu apel yang terbuka akan berubah
warnanya menjadi cokelat jika dibiarkan berhubungan langsung dengan udara. Hal
ini disebabkan apel mengalami reaksi oksidasi dengan oksigen dari udara.
Contoh beberapa reaksi oksidasi lainnya yaitu
§ Perkaratan besi. Besi (Fe) mudah bereaksi dengan oksigen dan
uap air menghasilkan senyawa yang mengandung oksigen (Fe2O3.xH2O) yang disebut dengan karat.
§ Pembakaran kertas, pembakaran lilin,
pembakaran minyak tanah atau gas elpiji dalam rumah tangga, dan pembakaran
glukosa dalam tubuh merupakan contoh reaksi oksidasi yang memerlukan oksigen.
Contoh reaksi oksidasi:
C(s) + O2(g) → CO2(g)
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O
C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O
S(s) + O2(g) → SO2(g)
Zat yang memberi oksigen pada reaksi oksidasi
disebut oksidator.
1.
Reaksi
Reduksi
Berdasarkan konsep ini, reaksi reduksi merupakan reaksi
pelepasan oksigen dari suatu zat yang mengandung oksigen.
Contoh reaksi reduksi:
2CuO(s) → 2Cu(s) + O2(g)
2Fe2O3 + 3C → 4Fe + 3CO2
Zat yang menarik oksigen pada reaksi reduksi
disebut reduktor.
1.
Konsep
Reaksi Oksidasi-Reduksi Berdasarkan Pelepasan dan Penerimaan Elektron
Berdasarkan konsep pelepasan dan penerimaan
elektron, oksidasi adalah pelepasan elektron oleh suatu zat
dan reduksi adalah pengambilan elektron oleh suatu zat. Oleh
karena itu, reaksi redoks ditandai dengan serah terima elektron dari satu
partikel kepada yang lain.
Contoh: reaksi antara Na dan Cl2 membentuk NaCl
Oksidasi: Na(g) → Na+(g) + e–
Reduksi: + e– → Cl–(g)
Na(g) + → NaCl(g)
Pada reaksi di atas
terlihat bahwa elektron yang dilepaskan oleh Na diterima oleh Cl2. Jumlah elektron tersebut dapat disamakan dengan
menyetarakan koefisien reaksinya. Dua istilah yang sering digunakan dalam
menerangkan reaksi redoks adalah senyawa pengoksidasi dan senyawa
pereduksi. Senyawa pengoksidasi (oxidizing agent) adalah zat
yang mengambil elektron dari zat yang dioksidasi, dengan cara itu menyebabkan
terjadinya oksidasi. Hal ini yang dilakukan oleh Cl2 dalam
reaksi antara Na dan Cl2; Cl2 mengambil elektron dari Na dan menyebabkan Na
dioksidasi. Jadi, Cl2 adalah senyawa
pengoksidasi.
Senyawa pereduksi adalah zat yang memberi elektron kepada
suatu zat lainnya yang direduksi, dengan cara itu menyebabkan terjadinya
reduksi. Hal ini yang dilakukan oleh Na ketika bereaksi dengan Cl2. Na memberikan elektron kepada Cl2 dan menyebabkan Cl2 direduksi.
1.
Konsep
Reaksi Oksidasi-Reduksi Berdasarkan Perubahan Bilangan Oksidasi
Berdasarkan konsep perubahan bilangan
oksidasi, oksidasi merupakan kenaikan bilangan oksidasi.
Sedangkan reduksi merupakan penurunan bilangan oksidasi.
Contoh:
0
0 +4 -2
C(s) + O2(g) → CO2(g)
§ Bilangan oksidasi C bertambah dari 0 ke +4; C
mengalami
§ Bilangan oksidasi O berkurang dari 0 ke -2; O
mengalami
Zat yang mengalami oksidasi disebut
dengan reduktor. Sedangkan zat yang mengalami reduksi disebut
dengan oksidator.
Berdasarkan konsep perubahan bilangan
oksidasi, Reaksi redoks merupakan reaksi dimana terjadi
perubahan bilangan oksidasi dari atom unsur sebelum dan sesudah reaksi.
1. Pengertian bilangan oksidasi
Bilangan oksidasi (b.o) adalah bilangan (baik positif maupun
negatif) yang diberi tanda pada atom dalam suatu senyawa, agar dapat diketahui
perubahan-perubahan yang terjadi dalam reaksi redoks. Bilangan oksidasi juga
dikenal sebagai tingkat oksidasi (oxidation state). Contoh: Berapakah bilangan
oksidasi Na dan Cl dalam NaCl?
Rumus Lewis NaCl adalah
Na+[ Cl ]–
Na melepaskan 1 elektron kepada Cl, sehingga bilangan oksidasi
Na = +1 sedangkan Cl menerima elektron yang dilepaskan Na sehingga bilangan
oksidasi Cl = -1
Aturan penentuan bilangan oksidasi :
§ Bilangan oksidasi atom unsur bebas sama dengan
0.
§ Bilangan oksidasi ion monoatom sama dengan
muatan ionnya.
§ Jumlah bilangan oksidasi atom-atom dalam
senyawa netral sama dengan 0. Sedangkan jumlah bilangan oksidasi atom-atom
dalam ion poliatom sama dengan muatan ionnya.
§ Bilangan oksidasi fluorin (F) dalam senyawa
nya selalu sama dengan -1.
§ Bilangan oksidasi hydrogen (H) jika berikatan
dengan non-logam sama dengan +1. Sedangkan bilangan oksidasi H jika berikatan
dengan logam dan boron adalah -1.
§
Bilangan oksidasi O dalam senyawanya sama dengan -2.
§ Bilangan oksidasi logam golongan IA dalam
senyawanya sama dengan +1.
§ Bilangan oksidasi logam golongan IIA dalam
senyawanya sama dengan +2.
§ Bilangan oksidasi non-logam,
1.
Dalam senyawa biner
dari logam dan non logam, non-logam mempunyai bilangan oksidasi sama dengan
muatan ionnya.
2.
Dalam senyawa biner
dari non-logam dan non-logam, non-logam yang lebih elektronegatif mempunyai
bilangan oksidasi negatif.
§ Bilangan oksidasi logam transisi dalam
senyawanya dapat lebih dari satu.
Contoh:
1.
Tentukan biloks S
dalam H2S
Jawab :
(2 x b.oH)+(1 x b.oS) = 0
2 x (+1) + b.o S = 0
b.o S = -2
2.
Tentukan biloks Cr
dalam ion Cr2O72-
Jawab:
(2 x b.o Cr) + ( 7 x b.o O) = -2
2 b.o Cr + (7 x
b.o(-2)=-2
b.o Cr = +6
2.
Penentuan
Reaksi Redoks atau Bukan Redoks
Setelah penentuan bilangan oksidasi atom unsur
dalam suatu senyawa atau ion di atas, bagaimana penerapan konsep peningkatan
dan penurunan bilangan oksidasi tersebut dapat menentukan apakah suatu reaksi
termasuk reaksi redoks atau bukan redoks? Reaksi redoks adalah reaksi
dimana terjadi perubahan bilangan oksidasi dari atom unsur sebelum dan sesudah
reaksi. Jadi suatu reaksi redoks dikatakan berlangsung jika dalam reaksi
tersebut terjadi peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
Berikut langkah-langkah untuk mengetahui adanya perubahan
bilangan oksidasi dalam reaksi redoks.
§ Tulis nilai b.o dari semua atom-atom.
§ Tentukan zat mana yang nilai b.o atom unsurnya
bertambah. Dikatakan zat tersebut mengalami oksidasi. Zat demikian disebut
reduktor dalam reaksi tersebut.
§ Tentukan zat mana yang nilai b.o atom unsurnya
berkurang. Dikatakan zat tersebut mengalami reduksi. Zat demikian disebut
oksidator dalam reaksi tersebut.
Contoh:
Fe2O3(s) + 3CO(g) → 2Fe(s) + 3CO2(g)
1.
Tentukan zat yang
teroksidasi dan zat yang tereduksi.
2. Tentukan reduktor dan oksidator.
Jawab:
1.
Tulis nilai b.o semua
atom unsur di ruas kiri dan kanan, sehingga dapat diketahui perubahan bilangan
oksidasinya.
b.o Fe berkurang
Fe mengalami reduksi
+3
-2 +2
-2
0
+4 -2
Fe2O3 +
3CO → 2Fe
+ 3CO2
b.o C bertambah
C mengalami oksidasi
Zat yang teroksidasi adalah CO.
Oleh karena Fe dalam Fe2O3 tereduksi,
maka zat yang tereduksi adalah Fe2O3
1.
Reduktor adalah CO dan
oksidator adalah Fe2O3
2.
Reaksi
Autoredoks
Reaksi autoredoks adalah reaksi redoks dimana pereaksi yang sama
mengalami oksidasi sekaligus reduksi. Contoh:
b.o Cl berkurang
Cl mengalami reduksi
0 +1
-2
+1
+1 -1 +1 +1
-2 +1 -2
Cl2(g)
+ 2NaOH(aq)
→ NaCl(aq)
+ NaClO(aq) + H2O(l)
b.o Cl bertambah Cl
mengalami oksidasi
1.
TATA
NAMA IUPAC BERDASARKAN BILANGAN OKSIDASI
Beberapa unsur dapat mempunyai lebih dari satu bilangan
oksidasi. Oleh karena itu diperlukan suatu tata nama yang menyertakan bilangan
oksidasi dari unsur dalam senyawanya. Tata nama demikian dikembangkan oleh ahli
kimia Jerman Alfred Stock dan kemudian dikenal sebagai sistem stock. Dalam
system ini, bilangan oksidasi dinyatakan dengan angka romawi I, II, III,….yang
ditulis setelah nama unsur/ionnya, tanpa diberi spasi.
1.
Senyawa
Ion
2.
Senyawa
Ion Biner
§ Senyawa ion biner terdiri dari atom-atom dari
dua jenis unsur yang berbeda yaitu unsur logam dan unsur non logam. Penamaan
senyawa ion biner menurut sistem stock yaitu sebagai berikut:
1.
Logam yang mempunyai
satu bilangan oksidasi
Jika senyawa ion biner tersusun atas unsur logam yang memiliki
satu bilangan oksidasi dan unsur non logam yang bermuatan negatif, penamaan
senyawa ion tersebut menurut sistem stock yaitu:
Nama unsur logam + nama unsur non logam yang
diberi akhiran –ida
Contoh:
KBr = Kalium bromida
Nama unsur logam nama non logam ditambah
akhiran -ida
1.
Logam yang mempunyai
lebih dari satu bilangan oksidasi
Jika senyawa ion biner tersusun atas unsur logam yang memiliki
lebih dari satu bilangan oksidas dan unsur non logam yang bermuatan negatif,
penamaan senyawa ion tersebut menurut system stock yaitu:
Nama unsur logam + (bilangan oksidasi logam
dengan huruf romawi tanpa spasi) + nama unsur non logam yang diberi akhiran
–ida
Contoh: FeCl2
Untuk memberi nama senyawa di atas, tentukan
terlebih dahulu biloks Fe dalam senyawa FeCl2.
(1 x b.o Fe) + (2 x b.o Cl) = 0
b.o Fe + 2 (-1) = 0
b.o Fe = -2
FeCl2 = Besi(II) klorida
§ Besi = nama unsur logam
§ (II) = bilangan oksidasi unsur logam yaitu Fe
dalam huruf Romawi
§ Klorida = nama unsur non logam yang ditambah akhiran
-ida
1.
Senyawa
ion yang Mengandung ion Poliatom
Ion poliatomik adalah ion yang terdiri atas lebih dari satu
unsur. Jadi senyawa ion yang mengandung ion poliatom terdiri atas unsur
logam/non logam dan ion poliatom.
Tabel 1
Beberapa
Ion Poliatom
|
Rumus Molekul
Ion
|
Nama ion
|
Rumus
Molekul Ion
|
Nama ion
|
|||||
|
Anion
bermuatan -1CH3COO–
CN–
ClO–
ClO2–
ClO3–
ClO4–
H2PO4–
HCO3–
HSO4–
MnO4–
OH–
NO2–
NO3–
|
Asetat
Sianida
Hipoklorit
Klorit
Klorat
Perklorat
Dihidrogen
fosfat
Bikarbonat
Bisulfat
Permanganat
Hidroksida
Nitrit
Nitrat
|
Anion
bermuatan -2CO32-
CrO42-
Cr2O72-
O22-
HPO42-
SO32-
SO42-
S2O32-
Anion bermuatan -3
PO33-
PO43-
|
Karbonat
Kromat
Dikromat
Peroksida
Hidrogen
fosfat
Sulfit
Sulfat
Tiosulfat
Fosfit
Fosfat
|
Jika suatu senyawa ion terdiri atas unsur logam yang memiliki
lebih dari satu bilangan oksidasi dan ion poliatom, penamaan senyawa ion
tersebut menurut sistem stock yaitu :
Nama unsur logam + (bilangan oksidasi unsur
logam dengan angka Romawi tanpa spasi) + nama ion poliatom
Contoh: Cr(ClO4)3
Senyawa ini terdiri atas 1 ion logam Cr3+ dan 3 ion poliatom ClO4– . Langkah
pertama untuk member nama senyawa tersebut adalah menentukan bilangan oksidasi
dari logam Cr. Bilangan oksidasi logam Cr dapat ditentukan dengan menguraikan
senyawa Cr(ClO4)3 menjadi
ion-ionnya.
Cr(ClO4)3 → Cr3+ + 3ClO4–
Ion ClO4– memiliki muatan -1. Jumlah ion ClO4– ada tiga
sehingga total muatannya adalah 3-. Untuk menetralkan muatan 3-, logam Cr harus
memiliki muatan 3+. Jadi dapat disimpulkan logam Cr memiliki bilangan oksidasi
+3.
Cr(ClO4)3 = Kromium(III) perklorat
§ Kromium = nama unsur logam Cr
§ (III) = bilangan oksidasi logam Cr
§ Perklorat = nama ion poliatom
2.
Senyawa
Kovalen
Senyawa kovalen merupakan senyawa yang
tersusun atas unsur nonlogam dan unsur non logam. Contoh: NO2, PCl3, NO, N2O5, dan lain-lain.
Dalam pemberian nama senyawa kovalen menggunakan awalan dari bahasa Yunani
untuk menunjukkan jumlah atom setiap macam unsur dalam satu molekul zat. Awalan
ini menurut artinya adalah:
§ mono- berarti satu
§ di- berarti dua
§ tri- berarti tiga
§ tetra- berarti empat
§ penta- berarti lima
§ heksa- berarti enam
§ hepta- berarti tujuh
§ okta- berarti delapan
§ nona- berarti Sembilan
§
|
deka- berarti sepuluh
Dalam memberi nama suatu senyawa kovalen, unsur non logam
pertama diberi nama dalam bahasa Indonesia. Unsur non logam kedua ditunjukkan
dengan menambah akhiran –ida pada nama asal dari unsur non logam tersebut.
Pemberian nama senyawa kovalen menurut sistem stock secara lengkapnya
yaitu
Awalan yang menunjukkan jumlah atom unsur non
logam pertama + nama unsur non logam pertama + Awalan yang menunjukkan jumlah
atom unsur non logam kedua + nama unsur non logam kedua ditambah akhiran –ida.
Contoh: P4O10
Langkah- langkah pemberian nama senyawa kovalen di atas menurut
system stock yaitu
§ Jumlah atom unsur P dalam senyawa P4O10 adalah 4.
Oleh karena itu diberi awalan tetra-
§ P = fosfor
§ Jumlah atom unsur O dalam senyawa P4O10 adalah 10.
Oleh karena itu diberi awalan deka-
§ O = oksigen
§ Oksigen ditambah akhiran –ida menjadi oksida
Jadi, P4O10 adalah tetrafosfor dekaoksida
Advertisements
permasalahan:
1. Untuk memindahkan
atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator).
Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan
dengan asam sulfat encer. mengapa digunakan kalium dikromat? Apakah tidak ada
larutan lain yang bisa diasamkan dengan asam sulfat encer untuk digunakan dalam
memindahkan hidrogen dari etanol ?
2. Berdasarkan konsep ini, reaksi oksidasi didifenisikan
sebagai penggabungan oksigen dengan unsur/senyawa. Salah satu reaksi oksidasi
yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yaitu apel yang terbuka akan berubah
warnanya menjadi cokelat jika dibiarkan berhubungan langsung dengan udara,
mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan apel yang terbuka akan
berubah warnanya menjadi cokelat?
3. Oleh
karena banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep
pengikatan oksigen maupun transfer elektron maka para pakar kimia
mengembangkan konsep alternatif, yaitu perubahan bilangan oksidasi. Menurut
konsep ini, jika
dalam reaksi bilangan oksidasi atom
meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi.
Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka
atom tersebut mengalami reduksi. Mengapa hal ini bisa
terjadi? Dan mengapa jika jika bilangan oksidasinya turun
maka atom tersebut mengalami reduksi?
1.
Selamat malam indah..
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab permasalahan anda no 3.
Dimana kita tau bahwa Jika dikaji berdasarkan konsep pengikatan oksigen maka reaksi tersebut adalah reaksi oksidasi. Jika dikaji berdasarkan transfer elektron maka Anda mungkin akan bingung, mengapa? Pada reaksi tersebut tidak terjadi transfer elektron, tetapi terjadi penggunaan bersama pasangan elektron membentuk ikatan kovalen. Reaksi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan konsep transfer elektron.
Oleh karena banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep pengikatan oksigen maupun transfer elektron maka para pakar kimia mengembangkan konsep alternatif, yaitu perubahan bilangan oksidasi. Menurut konsep ini, jika dalam reaksi bilangan oksidasi atom meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka atom tersebut mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik dalam pereaksi maupun hasil reaksi.
Baiklah sodari indah,, saya akan menjawab permasalahan nomer 2....
BalasHapusOksidasi Ezim dalam Buah Apel
Dalam buah apel terdapat enzim polifenol oksidase (tirosinase), yang terdiri dari enzim monophenol oksidase dan katekol oksidase. Saat kita memotong apel lalu daging buahnya terkena oksigen, maka enzim tadi akan menghasilkan senyawa fenolik dalam jaringan apel berubah menjadi orto-kuinon (o-kuinon). O-kuinon ini membentuk antiseptik alami yang fungsinya memberikan perlindungan dari bakteri dan jamur.
Sebenarnya o-kuinon itu tidak memiliki warna. Namun karena bereaksi dengan amino dan oksigen maka menghasilkan melanin. Nah, melanin inilah yang memberikan warna cokelat pada sel-sel potongan apel tersebut.
Saya akan menjawab permasalahan nomor 2
BalasHapusPerubahan warna menjadi coklat ini dikenal dengan nama browning enzymatic (reaksi pencoklatan enzimatis). Browning enzymatic atau reaksi pencoklatan enzimatis adalah proses kimia yang terjadi pada sayuran dan buah-buahan oleh enzim tertentu yang menghasilkan pigmen warna coklat (melanin). Proses pencokelatan enzimatik melibatkan enzim-enzim seperti Monophenol Monoxygenase atau tyrosinase, polifenol oksidase atau fenolase, dan laccase. Reaksi ini dapat terjadi jika jaringan tanaman terpotong, terbelah, tergigit, atau cara apapun yang dapat menyebabkan luka pada buah.
Perubahan pada buah apel
Perubahan warna yang terjadi pada daging buah apel disebabkan karena adanya perubahan enzimatis pada buah apel tersebut. Perubahan enzimatis merupakan perubahan yang terjadi akibat adanya keterlibatan dari enzim di dalamnya, yang menimbulkan perubahan kondisi pada suatu produk akibat bereaksi dengan enzim. Proses pencokelatan yang dialami oleh apel merupakan proses pencokelatan enzimatik yang dipengaruhi oleh kerja enzim fenolase.
Saya akan menjawab pertanyaan no3 Untuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik dalam pereaksi maupun hasil reaksi.
BalasHapusNo 3 jika dalam reaksi bilangan oksidasi atom meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka atom tersebut mengalami reduksi.
BalasHapusUntuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom,
saya akan menjawab permasalahan anda no 3.
BalasHapusDimana kita tau bahwa Jika dikaji berdasarkan konsep pengikatan oksigen maka reaksi tersebut adalah reaksi oksidasi. Jika dikaji berdasarkan transfer elektron maka Anda mungkin akan bingung, mengapa? Pada reaksi tersebut tidak terjadi transfer elektron, tetapi terjadi penggunaan bersama pasangan elektron membentuk ikatan kovalen. Reaksi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan konsep transfer elektron.
No 3 jika dalam reaksi bilangan oksidasi atom meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka atom tersebut mengalami reduksi.
BalasHapusUntuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom,
No 1 Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan. Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.
BalasHapusPerhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen.
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4.
No 1 Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan. Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.
BalasHapusPerhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen.
Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:
Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg ke-2:
BalasHapusPerubahan warna pada daging apel akan dimulai ketika daging apel telah terkupas dan mengalami kontak langsung dengan oksigen di udara. Ketika apel dikupas atau dipotong, enzim yang tersimpan di dalam jaringan apel akan terbebas. Apabila enzim tersebut mengalami kontak dengan oksigen di udara, fenolase akan mengkatalisis konversi biokimia dari komponen fenolik yang ada pada apel, sehingga komponen tersebut berubah menjadi pigmen coklat atau melanin. Proses ini pada umumnya terjadi pada pH antara 5,0 - 7,0 dan pada temperatur yang cenderung hangat. Adanya kontak antara buah dengan besi atau tembaga (pisau) akan mempercepat terjadinya reaksi pencoklatan enzimatik.
Saya akan menjawab permasalahan nomor 2
BalasHapusPerubahan warna menjadi coklat ini dikenal dengan nama browning enzymatic (reaksi pencoklatan enzimatis). Browning enzymatic atau reaksi pencoklatan enzimatis adalah proses kimia yang terjadi pada sayuran dan buah-buahan oleh enzim tertentu yang menghasilkan pigmen warna coklat (melanin). Proses pencokelatan enzimatik melibatkan enzim-enzim seperti Monophenol Monoxygenase atau tyrosinase, polifenol oksidase atau fenolase, dan laccase. Reaksi ini dapat terjadi jika jaringan tanaman terpotong, terbelah, tergigit, atau cara apapun yang dapat menyebabkan luka pada buah.
saya akan menjawab permasalahan anda no 3.
BalasHapusDimana kita tau bahwa Jika dikaji berdasarkan konsep pengikatan oksigen maka reaksi tersebut adalah reaksi oksidasi. Jika dikaji berdasarkan transfer elektron maka Anda mungkin akan bingung, mengapa? Pada reaksi tersebut tidak terjadi transfer elektron, tetapi terjadi penggunaan bersama pasangan elektron membentuk ikatan kovalen. Reaksi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan konsep transfer elektron.
saya jwab no 3
BalasHapusOleh karena banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep pengikatan oksigen maupun transfer elektron maka para pakar kimia mengembangkan konsep alternatif, yaitu perubahan bilangan oksidasi. Menurut konsep ini, jika dalam reaksi bilangan oksidasi atom meningkat maka atom tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun maka atom tersebut mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep perubahan bilangan oksidasi maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik dalam pereaksi maupun hasil reaksi.
Baiklah sodari indah,, saya akan menjawab permasalahan nomer 2....
BalasHapusOksidasi Ezim dalam Buah Apel
Dalam buah apel terdapat enzim polifenol oksidase (tirosinase), yang terdiri dari enzim monophenol oksidase dan katekol oksidase. Saat kita memotong apel lalu daging buahnya terkena oksigen, maka enzim tadi akan menghasilkan senyawa fenolik dalam jaringan apel berubah menjadi orto-kuinon (o-kuinon). O-kuinon ini membentuk antiseptik alami yang fungsinya memberikan perlindungan dari bakteri dan jamur.
Sebenarnya o-kuinon itu tidak memiliki warna. Namun karena bereaksi dengan amino dan oksigen maka menghasilkan melanin. Nah, melanin inilah yang memberikan warna cokelat pada sel-sel potongan apel tersebut.