modifikasi pada gugus amina dan imina
A. amina
Karbon,hydrogen dan oksigen merupakan unsure yang paling lazim terdapat dalam
system kehidupan.Nitrogen merupakan unsure ke empat.Nitrogen dijumpai dalam
protein,dan asam nukleat,maupun dalam banyak senyawa lain yang terdapat baik
dalam tumbuhan ,maupun hewan.dalam bab ini,akan dibahas amina,senyawa organic
yang mengandung atom-atom nitrogen trivalent,yang terikat pada satu atom
karbon atau lebih : R-NH2,R2NH atau R3N.
Amina tersebar luas dalam
tumbuhan dan hewan,dan banyak amina mempunyai kereaktivan fali.misalnya dua
dari stimulant alamiah tubuh dari system saraf simpatetik (melawan atau
melarikan diri)adalah merepinafrina dan epinafrina.
Baik norepinafrina maupun epinafrina adalah dua fenil etil amina.Sejumlah dua
fenil etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik.Senyawa
senyawa ini dirujuk sebagai amina simpatomimetik karena senyawa senyawa
ini,sampai batas tertentu,meniru kerja faali norepinafrina dan epinafrina.
Sebelum tahun masehi,senyawa efedrina di extrak dari tanaman mahuanjg di
tiongkok dan digunakan sebagai obat.sekarang,senyawa ini merupakan obat peluruh
dahak yang aktiv dalam obat tetes hidung dan obat flu.efedrin menyebabkan
menyusutnya membrane hidung, yang membengkak dan menghampat keluarnya lendir
hidung.
AMINA
Amina adalah turunan
organik dari ammonia dimana satu atau lebih atom hidrogen pada nitrogen telah
tergantikan oleh gugus alkil atau aril. Karena itu amina memiliki sifat mirip
dengan ammonia seperti alkohol dan eter terhadap air. Seperti
alkohol,amina bisa diklasifikasikan sebagai primer, sekunder dan tersier. Meski
demikian dasar dari pengkategoriannya berbeda dari alkohol. Alkohol diklasifikasikan dengan jumlah gugus non hidrogen
yang terikat pada karbon yang mengandung hidroksil., namun amina
diklasifikasikan dengan jumlah gugus nonhidrogen yang terikat langsung pada
atom nitrogen (Stoker, 1991).
Dengan
demikian kelompok fungsional karakteristik untuk amina primer, sekunder dan
tersier adalah:
CH3CH2NH2 +
CH3CO2H CH3CH2NH3 -O2CCH3
etilamonium
asetat atau etilamina aseta
34.5OC
56OC
117OC
Karena itu mempunyai ikatan NH,
amina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen.
Titik didih amina tersier lebih
rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya
sepadan, dan titik didihnya lebih
dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan.
Dan amina yang berbobot molekul
rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air.
Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen
karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk
membentukikatan hidrogen dengan air.
Dan
berikut merupakan beberapa sifat fisis amina
|
Nama
|
Struktur
|
Titik Didih oC
|
Kelarutan dalam air
|
|
Metilamina
|
CH3NH2
|
-6.3
|
∞
|
|
Dimetilamina
|
(CH3)2NH
|
7.5
|
∞
|
|
Trimetilamina
|
(CH3)3N
|
3
|
∞
|
|
Etilamina
|
CH3CH2NH2
|
17
|
∞
|
|
Benzilamina
|
C6H5CH2NH2
|
185
|
∞
|
|
Anilina
|
C6H5NH2
|
184
|
37 /100
ml
|
PEMBUATAN AMINA
à Cara Reaksi Reduksi
a. Pembuatan amina primer
Untuk
pembuatan amina primer, reaksi terjadi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama,
terbentuk sebuah garam –
dalam hal ini, etilamonuim bromida.
Garam ini sangat mirip dengan amonium bromida, kecuali bahwa salah satu atom
hidrogen dalam ion amonium telah diganti oleh sebuah gugus etil. Dengan
demikian, ada kemungkinan untuk terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan
amonia berlebih dalam campuran. Amonia mengambil sebuah atom hidrogen dari ion
etilamonium sehingga menjadikannya amina primer, yakni etilamina. Semakin banyak amonia yang
terdapat dalam campuran, semakin besar kemungkinan terjadi reaksi selanjutnya.
b. Pembuatan amina sekunder
Reaksi
di atas tidak berhenti setelah amina primer terbentuk. Etilamina juga bereaksi
dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti reaksi sebelumnya. Pada
tahap pertama, terbentuk sebuah garam – kali ini, dietilamonium bromida. Anggap
garam yang terbentuk ini adalah amonium bromida dengan dua atom hidrogen yang
digantikan oleh gugus-gugus etil.
Lagi-lagi
terdapat kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam
ini dengan amonia berlebih dalam campuran tersebut, seperti diperlihatkan pada
gambar berikut: Amonia mengambil sebuah ion hidrogen dari ion dietilamonium
sehingga menjadikannya amina sekunder, yakni dietilamin. Amina sekunder adalah
amina yang memiliki dua gugus alkil terikat pada atom nitrogen.
a. Pembuatan
amina tersier
Setelah
amina sekunder terbentuk, reaksi masih belum berhenti. Dietilamina juga
bereaksi dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti pada reaksi
sebelumnya.Pada tahapan pertama, terbentuk trietilamonium bromida.Lagi-lagi ada
kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan
amonia berlebih dalam campuran tersebut, sebagaimana ditunjukkan berikut: Amonia
mengambil sebuah ion hidrogen dari ion trietilamonium sehingga menjadikannya
amina tersier, yakni trietilamin. Amina tersier adalah amina yang memiliki tiga
gugus alkil terikat pada nitrogen.
Reaksi Substitusi Dengan Amina
Ikatan dalam amina
Ikatan dalam suatu amina beranalogi langsung dengan ikatan dalam amonia, suatu atomnitrogen
sp3 yang terikat pada tiga atom atau gugus lain (H atau R) dan
dengan sepasang elektronmenyendiri dalam orbital sp3 yang tersisa.
Dalam garam amina atau garam amonium kuartener,pasangan elektron menyendiri memembentuk ikatan sigma keempat. Kation beranalogi dengan ion
amonium.
Suatu molekul amina dengan tiga gugus berlainan yang terikat
pada nitrogen akan bersifat kiral;namin,enantiomer dari sebagian besar senyawa
amina tidak dapat diisolasi karena terjadinya inverse yang cepat antara
bayangan-bayangan cermin pada temperatur kamar. Inversi itu berlangsung lewat
keadaan-transisi datar (nitrogen sp2). Akibatnya ialah piramida
nitrogen itu menjentik sehingga dindingdalam menjadi dinding luar, mirip payung
yang terhenbus angin kencang. Energi yang diperlukan untuk inversi ini sekitar
6 kkal/mol, kira-kira dua kali energi untuk rotasi mengelilingi ikatan sigma
karbon-karbon.
Jika suatu nitrogen amina mempunyai tiga substituen yang
berlainan dan pengubahan timbalbalik antara kedua struktur bayangan cermin itu
terhalang, maka dapatlah diisolasi sepasang enantiomer. Basa Troger adalah
suatu contoh molekul semacam itu. Titian metilena antara kedua nitrogen
mencegah pengubahan timbalbalik (inverkonversi) antara banyangan cermin,
sehingga basa Troger dapat dipisahkan menjadi sepasang enantiomer.
Kasus
lain dimungkinkan adanya enantiomer yang dapat diisolasi ialah pada garam
amonium kuterner. Senywa ini secara struktur mirip senywa yang mengandung atom
karbon sp3. Jika empat gugus yang berlainan terikat pada nitrogen,
ion itu akan bersifat kiral dan garam itu dapat dipisah sebagai enantiomer –
enantiomer.
Penggunaan amina dalam sintesis
Sintesis senyawa yang mengandung nitrogen mendapatkan
perhatian khusus dari para ahli kimia organik yang berkecimpung dalam
farmakologi dan ilmu pngetahuan biologis lainnya, karena banyak biomolekul yang
mengandung nirogen. Sebagian besar yang digunakan untuk mensintesis senyawa
nitrogen dari amina telah dibahas dalam buku lain.
Banyak reaksi amina adalah hasil
serangan nukleofilik oleh elektron menyendiri dari nitrogen amina.
Reaksi substitusi suatu amina dengan alkil halida adalah suatu contoh dari
amina yang bertindak sebagai suatu nukleofil. Amina dapat juga digunakan
sebagai nukleofil dalam reaksi substitusi asil nukleofilik. Jika derivat asam
karboksilat merupakan reagensia karbonilnya, maka diperolehamida sebagai produk. Jika reaksi
karbonil berupa aldehid atau keton, produknya dalah imina (dari amina primer, RNH2)
atau suatu enamina (dari suatu amina sekunder, R2NH).
-NR3+OH-)
merupakan suatu teknik sintetik lain. Eliminasi Hofmann dari amonium kuarter
hidroksida, lebih berguna sebagai suatu alat analitis dari pada suatu alat
sintetik, karena dihasilkan campuran alkena. (juga, suatu reaksi eliminasi
alkil halida merupakan jalur yang lebih mudah menuju alkena di laboratorium).
Bahkan spektroskopi nmr telah lebih bayak digunakan sebgai suatu alat bantu
dalam suatu struktur dari pada eliminasi Hofmann. Di pihak lain,pengubahan
suatu arilamina menjadi garam diazonium yang disusul reaksi substitusi, sangat
berguna dalam sitesis organik, dan untuk memeriksa tipe senyawa yang
mudah diperoleh dari garam arildiazonium.
Enantiomer
tunggal dari amina kristal lazim dijumpai dalam tumbuhan. Karena kebasaannya,
beberapa amina ini dapat digunakan untuk memisahkan asm-asam karboksilat
rasimik. Dua diantaranya ialah striknina (strychnine) dan brusina (brucine),
keduanya dapat diisolasi dari biji bidara laut (strychnos nux-vomica; kedua
senyawa itu merupakanstimulan yang bersifat racun dalam sistem syaraf pusat).
Berikut adalah beberapa senyawa yang dapat diperoleh dari amina:
- Garam
amina
- Amida
- Imida
- Enamina
- Garam
arildiazonium
- Alkena
|
R3N +
R’X
R3NR’X- (Garam Amina)
|
||
|
O O
R2NH +
R’CCl
R2NCR’ (Amida)
|
||
|
RNH2 primer + R’2C
O
RN CR’2 (Imina)
|
||
|
O
NR2
R2NH sekunder + R’2CHCR’
R’2C CR’
(Enamina)
|
||
ArNH2 ArN2+Cl-
(Garam Arildiazonium)
|
||
NR’2
R2CHCR2
R2C CR2
(Alkena)
|
GARAM AMINA
Garam yang terbentuk oleh amina adalah zat kristal yang
dapat segera larut dalam air. Larut Banyak alkaloid (misalnya
kina dan atropin) digunakan medicinally dalam bentuk garam larut
('hydrochlorides'). Jika alkali (natrium hidroksida) ditambahkan ke
larutan garam seperti amina bebas adalah dibebaskan.
Reaksi suatu asam amina dengan suatu asam mineral (seperti CHl)
atau suatu asam karboksilat (seperti asam asetat) menghasilkan suatu garam
amina. Garam amina lazim diberi nama menurut salah satu dari dua cara: sebagai
garam ammonium tersubstitusi atau sebagai kompleks amina-asam.
(CH3)3N: + HCl (CH3)3NH+ Cl-
trimetilamonium klorida atau trimetilamina hidroklorida
CH3CH2NH2 +
CH3CO2H CH3CH2NH3 -O2CCH
etilamonium asetat
atau etilamina
aseta
Amonia
termasuk nukleofil yang dapat menyerang karbon maupun gugus karbonil yang
berasal dari aldehid maupun keton. Pada reaksinya dikatalis oleh runutan asam,
sehingga tahap pertama dalam reaksi itu dapat disebut sebagai adisi sederhana
oleh ammonia terhadap gugus karbonil tersebut. Sehingga hasil adisi yang tidak
stabil akan melepaskan air dan menghasilkan suatu imina, yaitu suatu senyawa
yang mengandung gugus C=N. Senyawa amina primer yang bereaksi dengan aldehid
dan keton akan menghasilkan suatu senyawa imina. Pembentukan suatu imina secara
mekanisme mirip dengan reaksi aldol. Pembentukan imina dikatalis oleh asam
encer. Reaksinya dapat berjalan secara optimal pada pH 3-5.
Mengapa
reaksi berjalan optimum pada pH dengan keasaman tinggi, karena amina merupakan
nukleofilik sehingga terdapat sepasang electron bebas yang terdapat pada atom
nitrogen. Amina dapat mempunyai sifat basa karena mampu menyumbangkan sepasang
electron bebasnya, sehingga semakin banyak senyawa amina yang disubstitusi oleh
gugus alkil maka sifat kebasaan dari amina tersebut semakin kuat. Karena gugus
yang melepaskan electron dapat menstabilkan muatan positif dari ion amonium.
Sehingga jika direaksikan dengan asam, dan alkilasi yang terjadi secara
berulang-ulang akan menghasilkan amina dengan produk samping suatu garam
ammonium kuartener.
Pada
aldehida atau keton terdapat sebuah gugus karbonil. Sehingga kepolaran dari
gugus karbonil ini mengakibatkan titik didih dari aldehida dan keton terdapat
diantara senyawa yang nonpolar atau senyawa yang memiliki ikatan hidrogen.
Senyawa aldehida dan keton mempunyai kelarutan yang hamper sama antara larut
dalam air dan dalam alkohol. Aldehida dan keton dapat melangsungkan reaksi
adisi, seperti hydrogen asikatalitik, reaksi katalitik asam dengan nukleofil
lemah, dan sebagainya. Reaktifitas senyawa karbonil akan bertambah jika
substitusi dari karbon karbonil berkurang.
Cara Kerja
Method
Alat dan
Bahan
Alat
Erlenmeyer
bekerglass
mechanical
stirrer
magnetic
stirrer
thermometer
Corong
Buchner
Bahan
Urea
HCl 2N
Es
Aquadest
Cara Kerja
Dimasukkan
sebanyak 10,2 mL benzaldehid kedalam Erlenmeyer yang didalamnya telah ada
magnetic stirrer. Ditambahkan 3 g urea yang telah dilarutan dalam aquadest,
dimasukkan kedalam campuran pertama tadi. Ditambahkan larutan HCl 4-5 tetes
kedalam campuran larutan diatas, atau sampai mencapai pH 3. Diaduk campuran
larutan tersebut selama 30 menit, dan suhu dalam Erlenmeyer dijaga antara 15
, sampai terbentuk endapan putih (seperti krim).
Diaduk campuran pada suhu kamar, tanpa dijaga suhunya selama kurang lebih 30
menit. Disaring endapan yang terbentuk menggunakan corong Buchner, jika
masih ada yang menempel pada erlenmeyer diencerkan dengan aquadest dingin.
Ditimbang berat basah, dikeringkan, kemudian ditimbang berat kering dan di
hitung titik leburnya. Dihitung hasil rendemen (dalam %).
Hasil dan Pembahasan
Result
and Discussion
Hasil
|
No
|
Kelompok
|
Berat
Kering
|
%
Rendemen (b/b)
|
Titik
Lebur
|
|
1
|
H.1
|
4,19
gram
|
35,33
%
|
110°-121°
C
|
|
2
|
H.2
|
5,86
gram
|
49,66
%
|
128°-138°
C
|
|
3
|
H.3
|
3,75
gram
|
23,30
%
|
110°-120°
C
|
|
4
|
H.4
|
8,65
gram
|
73,31
%
|
112°-129°
C
|
|
5
|
H.5
|
7,86
gram
|
66,61
%
|
88°-100°
C
|
|
6
|
H.6
|
1,36
gram
|
11,50
%
|
100°-108°
C
|
|
Rata-rata
|
5,28
gram
|
43,29
%
|
Pembahasan
Pembuatan
1,3-bis-Fenilmetilidinurea dilakukan dengan cara adisi-eliminasi dari
benzaldehid dan urea. Dengan prinsip reaksi adisi-eliminasi suatu nukleofil
menyerang gugus karbonil. Gugus karbonil tersebut berasal dari benzaldehid sedangkan
urea berfungsi sebagai nukleofil dan dengan bantuan HCl 2N sebagai kalatis dan
dapat mempercepat reaksi serta dapat mengadisi nukleofilik. Mekanisme pembuatan
imina merupakan proses dua tahap. Tahap pertama yaitu adisi amina nukleofil
pada karbon karbonil positif parsial.
Tahap
kedua (eliminasi) yaitu pelepasan gugus OH sebagai molekul air dan pembentukan
ikatan rangkap nitrogen untuk menghasilkan imina.
Pembuatannya
adalah pertama menyiapkan semua bahan dimasukkan benzaldehid (10,2 mL) dan urea
(3 g) dalam erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil agar urea tidak menguap
dengan udara. Sebelum dicampur dengan benzaldehid, maka urea dilarutkan dengan
air. Karena pH larutan belum asam maka ditambahkan HCl 2N sebanyak 1 tetes
diukur pH agar pH 4 dengan indikator pH agar reaksi berlangsung optimal.
Didalam erlenmeyer diletakkan pengaduk magnetik kemudian distirer selama 30
menit dengan suhu dijaga 15°C. Apabila telah terbentuk endapan maka diaduk
kembali dengan suhu ruang (36°-37°C) selama 30 menit. Disaring larutan dengan
corong buchner, ditimbang dan dikeringkan terbentuk 1,3-bis-Fenilmetilidinurea
yang berbentuk serbuk dengan warna putih dan bau khas menyengat.
Dan dari
data yang kami ambil dari seluruh kelompok, didapat kelompok empat menunjukkan berat
yang paling banyak yaitu 8,65 g dengan rendemen 73,31%. Serta hasil titik lebur
yang menunjukkan titik 88°-138° C. Dan berat kering secara teoritis yaitu 11,8
gram sedangkan titik lebur teoritis belum diketahui.
Kesimpulan
Conclusion
Dari
praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil produk yang berbentuk serbuk
dengan warna putih dan bau khas menyengat dari reaksi adisi-eliminasi
benzaldehid dengan urea. Berat kering rata-rata yang didapat yaitu 5,28 gram
dengan rata-rata rendemen 43,29 % b/b yang lebih kecil dari berat kering
teoritis yaitu 11,8 gram.
Pustaka
Reference
Fessenden
& Fessenden, 1999, Kimia Organik Jilid I Edisi Ketiga, Penerbit
Erlangga : Jakarta
Hart
Harnold, Craine Leslie E, Hart David J, 2004, Kimia Organik Suatu
Kuliah Singkat, Penerbit Erlangga : Jakarta
Pine,
Stainly H, Hendricaon James B, Cram Donald J, Hammond Feonge S, 1998, Kimia
Organik I, ITB : Bandung
Sastrohamidjojo.
Hardjono, 2011, Kimia Dasar, Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Wilbram.
Anthony C, Mata Michael S, 1992, Kimia Organik & Hayati, ITB :
Bandung
Permasalahan:
1. Baik
norepinafrina maupun epinafrina adalah dua fenil etil amina.Sejumlah dua fenil
etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik.Senyawa senyawa
ini dirujuk sebagai amina simpatomimetik karena senyawa senyawa ini,sampai
batas tertentu,meniru kerja norepinafrina dan epinafrina. Apa saja dua fenil
etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik ? dan mengapa dua
fenil etil amina lain ini meniru kerja norepinafrina dan epinafrina?
2. Amina
adalah turunan organik dari ammonia dimana satu atau lebih atom hidrogen pada
nitrogen telah tergantikan oleh gugus alkil atau aril. Karena itu amina
memiliki sifat mirip dengan ammonia seperti alkohol dan eter
terhadap air. Seperti alkohol,amina bisa diklasifikasikan sebagai primer,
sekunder dan tersier. Meski demikian dasar dari pengkategoriannya berbeda dari alcohol.
Mengapa pengkategoriannya amina berbeda dari alcohol, sedangkan amina dan alcohol
sama-sama turunan dari ammonia?
3.
Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau
sekunder yang bobot melekulnya sepadan, mengapa Amina tersier maupun amina
sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hydrogen, sedangkan amina tersier Titik didihnya lebih rendah dari pada amina
primer atau sekunder?
Saya akan menjawab no 3 Amina mengalami beberapa reaksi yang dapat diuji digunakan untuk membedakan antara amina penggolongnya, uji Hinsbreg adalah sub penggolongan untuk membedakan antara amina primer, sekunder dan tersier, pengujian ini berdasarkan atas kenyataan bahwa amina primer dan sekunder bereaksi dengan benzel sulfonil klorida membentuk N tersubtitusi benzen sulfonamida. Sedangkan amina primer tidak bereaksi. Senyawa benzensulfonamida dan amina primer adalah asam lemah yang pada umumnya larut dalam NaOH encer, senyawa benzensulfonamida dari amina sekunder merupakan senyawa netral yang tidak larut dalam NaOH.
BalasHapusamina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan 1
BalasHapusYaitu Amina tersebar luas dalam tumbuhan dan hewan,dan banyak amina mempunyai kereaktivan fali.misalnya dua dari stimulant alamiah tubuh dari system saraf simpatetik (melawan atau melarikan diri)adalah merepinafrina dan epinafrina.
Baik norepinafrina maupun epinafrina adalah dua fenil etil amina.Sejumlah dua fenil etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik.Senyawa senyawa ini dirujuk sebagai amina simpatomimetik karena senyawa senyawa ini,sampai batas tertentu,meniru kerja faali norepinafrina dan epinafrina.
Sebelum tahun masehi,senyawa efedrina di extrak dari tanaman mahuanjg di tiongkok dan digunakan sebagai obat.sekarang,senyawa ini merupakan obat peluruh dahak yang aktiv dalam obat tetes hidung dan obat flu.efedrin menyebabkan menyusutnya membrane hidung, yang membengkak dan menghampat keluarnya lendir hidung.
Saya akan menjawab permasalahn ke 2..
BalasHapusAlkohol diklasifikasikan dengan jumlah gugus non hidrogen yang terikat pada karbon yang mengandung hidroksil.,
Sedangkan amina diklasifikasikan dengan jumlah gugus nonhidrogen yang terikat langsung pada atom nitrogen
Permasalahan no 3 Senyawa benzensulfonamida dan amina primer adalah asam lemah yang pada umumnya larut dalam NaOH encer, senyawa benzensulfonamida dari amina sekunder merupakan senyawa netral yang tidak larut dalam NaOH.
BalasHapusamina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen.
No 3 Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
BalasHapusSaya akan menjawab no 3 amina primer tidak bereaksi. Senyawa benzensulfonamida dan amina primer adalah asam lemah yang pada umumnya larut dalam NaOH encer, senyawa benzensulfonamida dari amina sekunder merupakan senyawa netral yang tidak larut dalam NaOH.
BalasHapusamina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan.
No 3 Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg ke-3:
BalasHapusKarena Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan ai
Saya akan menjawab
BalasHapussenyawa benzensulfonamida dari amina sekunder merupakan senyawa netral yang tidak larut dalam NaOH.
amina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan 1
BalasHapusYaitu Amina tersebar luas dalam tumbuhan dan hewan,dan banyak amina mempunyai kereaktivan fali.misalnya dua dari stimulant alamiah tubuh dari system saraf simpatetik (melawan atau melarikan diri)adalah merepinafrina dan epinafrina.
Baik norepinafrina maupun epinafrina adalah dua fenil etil amina.Sejumlah dua fenil etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik.Senyawa senyawa ini dirujuk sebagai amina simpatomimetik karena senyawa senyawa ini,sampai batas tertentu,meniru kerja faali norepinafrina dan epinafrina.
Sebelum tahun masehi,senyawa efedrina di extrak dari tanaman mahuanjg di tiongkok dan digunakan sebagai obat.sekarang,senyawa ini merupakan obat peluruh dahak yang aktiv dalam obat tetes hidung dan obat flu.efedrin menyebabkan menyusutnya membrane hidung, yang membengkak dan menghampat keluarnya lendir hidung.
Saya akan menjawab no 3 Amina mengalami beberapa reaksi yang dapat diuji digunakan untuk membedakan antara amina penggolongnya, uji Hinsbreg adalah sub penggolongan untuk membedakan antara amina primer, sekunder dan tersier, pengujian ini berdasarkan atas kenyataan bahwa amina primer dan sekunder bereaksi dengan benzel sulfonil klorida membentuk N tersubtitusi benzen sulfonamida. Sedangkan amina primer tidak bereaksi. Senyawa benzensulfonamida dan amina primer adalah asam lemah yang pada umumnya larut dalam NaOH encer, senyawa benzensulfonamida dari amina sekunder merupakan senyawa netral yang tidak larut dalam NaOH.
BalasHapussaya jwab no 3 amina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
BalasHapussay ajwab no 1 Baik norepinafrina maupun epinafrina adalah dua fenil etil amina.Sejumlah dua fenil etil amina lain bertindak terhadap reseptor-reseptor simpatetik.Senyawa senyawa ini dirujuk sebagai amina simpatomimetik karena senyawa senyawa ini,sampai batas tertentu,meniru kerja faali norepinafrina dan epinafrina.
BalasHapusSebelum tahun masehi,senyawa efedrina di extrak dari tanaman mahuanjg di tiongkok dan digunakan sebagai obat.sekarang,senyawa ini merupakan obat peluruh dahak yang aktiv dalam obat tetes hidung dan obat flu.efedrin menyebabkan menyusutnya membrane hidung, yang membengkak dan menghampat keluarnya lendir hidung.
jawaban permasalahan nomor 3 Karena itu mempunyai ikatan NH, amina tersier dalam bentuk cairan murni tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Titik didih amina tersier lebih rendah dari pada amina primer atau sekunder yang bobot melekulnya sepadan, dan titik didihnya lebih dekat ke titik didih alkana yang bobot molekulnya bersamaan. Dan amina yang berbobot molekul rendah larut dalam air karena membentuk ikatan hidrogen dengan air. Amina tersier maupun amina sekunder dan primer dapat membentuk ikatan hidrogen karena memiliki pasangan elektron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentukikatan hidrogen dengan air.
BalasHapuspermasalahn ke 2..
BalasHapusAlkohol diklasifikasikan dengan jumlah gugus non hidrogen yang terikat pada karbon yang mengandung hidroksil.,
Sedangkan amina diklasifikasikan dengan jumlah gugus nonhidrogen yang terikat langsung pada atom nitrogennya.